Simak Ulasan Tentang Gejala Buta Warna Parsial dan Perbedaannya dengan Buta Warna Total

Simak Ulasan Tentang Gejala Buta Warna Parsial dan Perbedaannya dengan Buta Warna Total

Pernahkah Anda diminta untuk membedakan warna dengan melakukan tes buta warna? Pada tes tersebut Anda akan diminta membaca huruf, angka atau pun gambar yang dibuat dari titik-titik dengan warna-warna berbeda. Setelah itu Anda juga akan diminta untuk menyebutkan warna-warna yang ditunjukkan dengan berbagai perbedaannya. Bisa menebak dan membedakannya? Berarti Anda memiliki mata yang normal. Namun bagaimana jika ada yang tak bisa membedakan warna-warna yang ditunjukkan tersebut? Bisa jadi orang tersebut memiliki kondisi buta warna parsial atau buta warna total.

Kedua jenis buta warna ini memiliki kondisi yang berbeda dimana buta warna total sama sekali tidak bisa membedakan warna yang ada. Yang ia lihat hanyalah warna abu-abu sehingga sulit untuk membaca angka, titik atau gambar yang terbuat dari beberapa warna. Sedangkan untuk kondisi parsial, seseorang pada umumnya masih bisa membedakan atau menebak angka dan gambar namun tidak bisa membedakan jenis warna-warna tertentu. Jenis buta parsial inilah yang merupakan jenis buta warna parsial yang paling banyak terjadi, sedangkan buta warna total lebih jarang ditemukan. Penyebab jenis buta warna ini adalah keturunan atau genetika. Selain itu pertambahan usia yang ditambah dengan adanya katarak juga bisa menyebabkan jenis buta warna sebagian ini.

Ada dua jenis buta warna sebagian ini yaitu:

  • Buta warna merah – hijau.

Disebabkan oleh berkurangnya sel kerucut merah dan sel kerucut hijau sehingga mata memiliki keterbatasan untuk membedakan warna-warna di gradasi merah dan hijau. Buta warna ini sendiri masih dibedakan menjadi empat golongan yaitu:

  1. Tidak adanya sel kerucut hijau yang menyebabkan penderita melihat warna merah menjadi kuning coklat dan warna hijau menjadi krem. Kondisi ini disebut Deuteranopi.
  2. Tidak terdapatnya atau berkurangnya sel kerucut merah sehingga warna merah menjadi hitam. Selain itu warna jingga dan hijau akan menjadi kuning sehingga sulit membedakan warna ungu dan biru. Kondisi ini disebut Protanopia.
  3. Terdapat gangguan fungsi fotopigmen merah sehingga warna jingga, kuning dan merah tampak lebih gelap seperti hijau. Kondisi ini disebut Protanomali.
  4. Fotopigmen biru tidak normal yang mengakibatkan warna hijau dan kuning menjadi kemerahan serta sulit membedakan warna ungu dan biru. Kondisi ini disebut Deuteranomali.
  • Buta warna biru – kuning.

Disebabkan karena berkurangnya atau hilangnya sel kerucut biru. Jenis ini terbagi menjadi dua golongan yaitu:

  • Warna biru tampak lebih hijau dan sulit membedakan warna kuning dan merah. Kondisi ini disebut tritanomali.
  • Warna biru menjadi hijau dan warna kuning menjadi abu-abu muda. Kondisi ini disebut tritanopia.

Pada penderita buta warna akibat genetika ini, tidak bisa disembuhkan karena sel kerucut pada retina belum bisa digantikan dengan sel buatan. Namun jika ada yang mendapatkan kondisi buta warna akibat pengaruh obat-obatan atau trauma, maka harus segera melakukan konsultasi dengan dokter mata agar bisa dilakukan penanganan secepatnya sehingga tidak menjadi permanen.

Pada umumnya, kondisi buta warna parsial tidak mengganggu kondisi kesehatan pada umumnya. Hanya saja penderita perlu mendapatkan penyesuaian dengan lingkungan disekitarnya sehingga bisa melakukan aktifitas dengan tetap normal seperti orang biasa lainnya. Pada anak yang lahir dengan buta warna, perlu segera mendapatkan penanganan khusus oleh dokter mata agar bisa menyesuaikan atau beradaptasi dengan lingkungan sehari-hari sehingga tetap bisa bermain dan beraktivitas dengan aman.

shares